Diarsipkan di bawah: Aqidah
Akidah Untuk Mukminin dan Mukminah (1)
Rabu, 02 Januari 2008
Bagian I
PENGANTAR
Segala puji bagi Allah, yang masih menyisakan sebagian ahli ilmu di zaman di mana Rasul telah tiada, mereka itulah yang menyeru orang-orang sesat agar mengikuti petunjuk, yang senantiasa bersabar menghadapi gangguan yang menimpa. Mereka jualah yang menghidupkan hati-hati yang mati dengan Kitabullah, mereka berikan pencerahan kepada orang-orang yang telah buta mata hatinya dengan Kitabullah. Betapa banyak orang yang hatinya telah mati dibinasakan iblis kembali hidup hatinya berkat dakwah mereka. Dan betapa banyak orang bodoh dan sesat mendapatkan terangnya hidayah melalui mereka.
Sungguh besar jasa mereka bagi kehidupan umat manusia, akan tetapi sungguh jelek balasan dari umat manusia kepada mereka. Merekalah yang menafikan dari pemutarbalikan pemahaman oleh orang-orang yang melampaui batas dari Kitabullah serta menolak kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama, dan mereka jualah yang membantah ta’wilnya orang-orang yang tidak paham agama (lihat Muqoddimah Al Mujalla fi Syarhi Qawa’idil Mutsla, Kamilah Al Kiwari hal. 21)
Sebagaimana sebuah hadits shahih telah memberikan kabar gembira untuk kita, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda, “(Ketahuilah) Ilmu (agama) ini akan diemban oleh orang-orang adil dan taat di setiap generasi, merekalah yang membersihkan ilmu itu dari pemutarbalikan pemahaman oleh orang yang melampaui batas, serta kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama dan membantah ta’wilnya orang-orang yang jahil” (Syaikh Ali mengatakan: ini Hadits shahih, lihat Al ‘Ilmu Fadhluhu wa syarfuhu hal. 21, dan Al Ustadz Luqman mengatakan: Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam Al Misykat, lihat Mereka adalah Teroris hal. 44).
Pembaca yang budiman, semoga Allah menghidupkan kita di atas Islam dan Sunnah, di tengah berbagai arus pemikiran dan beraneka ragamnya cara beragama yang ada di antara kaum muslimin dewasa ini, satu kelompok mengajak kita untuk mengekor kaum filsafat dengan gerakan Jaringan Islam Liberalnya, satunya lagi mengajak kita untuk tenggelam dalam buaian akal dan prediksi-prediksi politik yang sulit dibaca, satunya lagi menginginkan tegaknya khilafah tapi sekedar mengangkat celana di atas mata kaki saja tidak bisa, satunya lagi susah sekali untuk diajak memberantas bid’ah yang mengotori agama, satunya lagi mengaku bermanhaj salaf tapi suka ngebom dimana-mana. Subhaanallah !!
Karena itulah kiranya sudah menjadi kebutuhan primer kita di masa yang seperti ini untuk mengetahui mutiara-mutiara keyakinan Islam yang masih murni dan terbebas dari noda-noda yang mengotorinya. Keyakinan-keyakinan kokoh yang mampu mengantarkan generasi pertama umat ini menuju kejayaan dunia dan akhirat, itulah yang seharusnya kini kita cari-cari dan mengerti. Yang dengan fondasi keyakinan-keyakinan itulah mereka bangun seluruh sendi kehidupan mereka, baik dalam masalah ibadah, mu’amalah, akhlak bahkan tentu saja siyasah/politik !!
Marilah kita ingat firman Allah ta’ala di dalam kitab-Nya yang mulia:
وَالسَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأَنصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّهُ عَنْهُمْ وَرَضُواْ عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَداً ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Dan orang-orang yang terdahulu dan pertama-tama (beriman dan membela Islam) dari kalangan Muhajirin dan Anshar beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan/baik, Allah telah ridho kepada mereka dan mereka pun ridho kepada-Nya. Dan Allah telah mempersiapkan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang amat besar.” (QS At Taubah: 100)
Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata setelah mengutip penggalan ayat “beserta orang-orang yang mengikuti mereka dengan ihsan/baik”: “(yaitu mengikuti mereka -pent) dalam perkara I’tiqad/keyakinan, ucapan, dan amalan, mereka itulah orang yang selamat dari celaan dan berhasil menuai sanjungan terbaik serta kemuliaan paling utama dari Allah” (Taisir Karim Ar rahman, cet. Mua’assasah Ar Risalah, hal. 350). Di dalam ayat ini Allah tidak mengatakan “orang-orang yang mengikuti akidah mereka” tapi Allah firmankan, “orang-orang yang mengikuti mereka” padahal kita tahu bersama akidah sangatlah penting, akan tetapi Allah Maha bijaksana. Dengan kalimat nan indah Allah nyatakan “yang mengikuti mereka” dengan tanpa pembatasan dalam masalah akidah atau ibadah atau fikih saja, ya SubhaanAllah.. Ini sungguh menakjubkan, lalu bagaimana pendapat anda apabila ada orang yang dengan sok bijaksana mengatakan dengan lisanul maqal (ucapan lisan) maupun lisanul hal (ekspresi dan sikap)nya bahwa kalau masalah akidah dan ibadah ya mari kita merujuk pada ulama salaf (pengikut pemahaman sahabat), tapi kalau siyasah/politik tunggu dulu, … Bagaimana hal ini bisa terjadi? WAllahul musta’aan. Bagaimana bisa anda ambil sebagian lalu sebagian lagi anda tinggalkan seenaknya. Orang Jawa Timur bilang, “Yo’ opo rek ?!”
BELAJAR AKIDAH MULAI DARI USHULUTS TSALATSAH
Sebagai pembuka silsilah ini kami akan sampaikan kandungan sebuah risalah yang amat mulia, sebuah ajakan bagi ikhwan dan akhowat semua untuk kembali mengintrospeksi diri dan membersihkan (mentashfiyah) jiwa dari kotoran kebodohan, kekufuran, kebid’ahan, maksiat dan ketidaksabaran, kemudian mendidik jiwa (mentarbiyah) dengan ilmu, keimanan, sunnah, taat dan kesabaran. Inilah yang dijadikan sebagai pembuka risalah Tsalatsatu ushul oleh Al Imam Al Mujaddid Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah ta’ala. Beliau berkata, “(Saudaraku) Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat-Nya kepada anda. Ketahuilah, bahwa wajib bagi kita untuk mendalami empat masalah, yaitu:
1. Ilmu, ialah mengenal Allah, mengenal Nabi-Nya dan mengenal agama Islam berdasarkan dalil-dalil.
2. Amal, ialah menerapkan ilmu ini.
3. Da’wah, ialah mengajak orang lain kepada ilmu ini dan beramal dengannya.
4. Sabar, ialah tabah dan tangguh menghadapi segala rintangan dalam menuntut ilmu, mengamalkannya dan berda’wah kepadanya.”
Di dalam ucapan-ucapan beliau di atas terdapat banyak pelajaran berharga yang bisa kita petik, diantaranya adalah:
Pertama: Ilmu dibangun di atas landasan kasih sayang dan kelembutan
Syaikh Shalih Alu Syaikh hafizhahullah berkata: “Di dalam ungkapan ini (yaitu Ketahuilah, semoga Allah merahmatimu -pent) terdapat kelemahlembutan, dan di dalamnya juga terkandung penegasan bahwa bangunan ilmu ini didasari oleh kelemahlembutan serta rasa kasih sayang terhadap orang-orang yang menuntut ilmu, sebab beliau (di sini) mendoakannya dengan doa rahmat. Dahulu, para ulama menerima dan menyampaikan kepada orang sesudah mereka yang meminta ijazah (untuk meriwayatkan) hadits sebuah riwayat hadits, Ar Raahimuuna yarhamuhumur Rahmaan (yang artinya) “Orang-orang yang penyayang niscaya akan disayangi pula oleh Ar Rahman/Yang Maha penyayang”,…” (Syarah Kitab Tsalatsatil Ushul, penerbit Daar Jamilurrahman As Salafy, hal. 4)
Dan mungkin masih tersimpan dalam ingatan kita sebuah kisah menarik yang dikisahkan oleh Imam Bukhari rahimahullah. Beliau berkata: Abul Yaman menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’aib memberitakan kepada kami dari Az Zuhri, dia berkata: Ubaidullah bin Abdillah bin ‘Utbah bin Mas’ud memberitakan kepadaku bahwa Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: Ada seorang Arab badui berdiri di dalam mesjid lalu kencing (di dalamnya), maka orang-orang pun berkomentar untuk menghentikannya. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda kepada mereka, “Biarkanlah dulu, dan siramlah (bekas) kencingnya dengan ember berisi air -atau seember penuh air- karena sesungguhnya kalian diutus untuk memudahkan bukan untuk mempersulit” (Hadits no. 220 dan lihat juga hadits semakna no 221 dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu).
Sampai-sampai di dalam riwayat Tirmidzi diceritakan bahwa si Arab badui tadi berdoa sesudah shalat, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati bersama kami siapapun”.. ini menunjukkan betapa bijaknya sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam melarang kemungkaran (bandingkanlah dengan perilaku kita !!).
Salah satu faedah yang bisa dipetik dari hadits tersebut adalah sebagaimana dikatakan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah ketika menjelaskan hadits no 221, “…di dalam hadits ini juga (bisa diambil pelajaran -pent) hendaknya bersikap lembut pada orang yang bodoh dan mengajarinya tanpa sikap keras apabila memang tidak ada sikap menentang darinya, terlebih lagi apabila dia termasuk orang yang butuh untuk didekati dan dibujuk hatinya, dan di dalamnya terkandung bukti kasih sayang Nabi dan kebagusan akhlaknya, sehingga disebutkan di dalam riwayat Ibnu Majah dan Ibnu Hiban dari (jalan) hadits Abu Hurairah si Arab badui tersebut berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam setelah ia cukup paham dengan ajaran Islam, “Ayah dan ibuku sebagai tebusan bagimu, sungguh (ketika itu) anda tidak marah dan mencela (saya)” (lihat Fathul Baari I/385-387)
Maka marilah kita teliti lagi sikap kita kepada orang-orang awam di sekitar kita, apakah kita sudah meneladani sikap Nabi ini ataukah kita justru orang pertama yang bersikap keras kepada mereka, sehingga membuat mereka antipati? Wahai diri yang bodoh sadarilah kekeliruanmu, manakah bukti ke-salafi-anmu? Allahumma inni a’uudzubika min ‘ilmin laa yanfa’. Ya Allah perbaikilah akhlaq kami..
Tidakkah kita ingat kisah dakwah Musa dan Harun yang difirmankan Allah di dalam Al Quran:
اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى
“Maka katakanlah kepadanya (Fir’aun) dengan ucapan yang lembut semoga dia bisa mengambil pelajaran atau merasa takut.” (QS. Thaaha: 43-44)
Sesungguhnya di dalamnya terkandung pelajaran dan peringatan, dan sesungguhnya hanya orang-orang mukmin sajalah yang bisa mengambil manfaat darinya. sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (lihat QS. Adz Dzariyaat: 55)
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah berkata dalam konteks faidah ayat dalam surat Thaaha di atas, “Sesungguhnya cara yang seharusnya ditempuh dalam berbicara kepada para raja dan pemimpin (pemerintah), adalah mendakwahi dan menasihati mereka dengan sikap lemah lembut dan ucapan yang lembut, yang dengan itu akan dapat diberikan pemahaman tanpa disertai kegusaran dan sikap kasar. Dan hal ini (lembut) dibutuhkan di setiap kesempatan (tidak hanya untuk raja atau pemimpin saja -pent), namun kesempatan ini termasuk yang paling penting, sebab dengan cara itulah maksud yang diinginkan akan dapat tercapai, yaitu “supaya dia mau ingat dan merasa takut” (QS. Thaaha: 44). (lihat Taisir Lathif Al Mannan, hal. 263).
Maka hendaklah orang-orang yang gemar berdemo di bundaran itu mau membaca ayat beserta penjelasan ini, semoga mereka mau ingat dan merasa takut. Hadaahumullah (semoga Allah menganugerahkan petunjuk kepada mereka). Dan juga semoga orang-orang yang suka meledakkan bom, yang ngaku ‘demen yang ribut-ribut dan berbau kematian’ mau sedikit belajar dari sepenggal doa nan indah dari Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ini, karena mengaku salafi itu mudah tapi menjadi salafi beneran tidak semudah mengatakannya, sebagaimana kata penyair:
Semua orang mengaku punya hubungan dengan si Laila
tapi nyatanya, si Laila tidak mengakui ocehan mereka
MAKNA DOA RAHMAT
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah mengatakan, “(doa) Semoga Allah merahmatimu artinya: semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu, yang dengan rahmat itu engkau bisa mencapai keinginanmu dan selamat dari bahaya yang engkau takutkan, maka maknanya adalah: Semoga Allah mengampuni dosa-dosamu yeng telah lalu dan semoga Dia memberimu taufik dan menjagamu di masa depan…” (Syarh Tsalatsatil Ushul, hal. 19).
Syaikh Abdurrahman bin Qasim rahimahullah mengomentari doa yang dipanjatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab tersebut. Beliau berkata, “Ini termasuk bukti perhatian dan nasihat serta maksud baik beliau kepada kaum muslimin agar mereka memperoleh kebaikan” (Hasyiyah Tsalatsatil Ushul, hal. 10). Begitu pula yang dikatakan oleh Syaikh Nu’man di dalam penjelasan beliau, beliau mengatakan, “Doa bagi murid termasuk kebaikan dalam cara mengajar, ia menjadi tanda kasih sayang pengajar kepada orang yang belajar” (Taisirul Wushul, hal. 5).
Syaikh Abdullah bin Shalih Al Fauzan hafizhahullah mengatakan setelah membawakan doa dari Syaikh tersebut, “Ini adalah doa dari penulis rahimahullah bagimu wahai pembaca, yang menunjukkan kecintaan beliau kepadamu, kasih sayangnya kepadamu, dan karena beliau sangat menginginkan tercapainya kebaikan bagimu…” (Hushulul Ma’mul, hal. 11). Sungguh indah dakwah salafiyyah ini, sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sayangilah yang ada di bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangimu pula” (lihat Syarh Tsalatsatil Ushul Syaikh Shalih Alu Syaikh, hal. 4). Allah ta’ala berfirman:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظّاً غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنفَضُّواْ مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, …” (QS. Ali Imran : 159)
Syaikh As Sa’di rahimahullah berkata tentang ayat ini, “…inilah pernyataan yang difirmankan Allah kepada Rasul yang ma’shum, maka bagaimanakah lagi terhadap orang selain beliau ?!” (Taisir Karimir Rahman, hal. 154). Maka selain Nabi tentu lebih tidak pantas bersikap keras…bukankah begitu ikhwan dan akhowat sekalian ?
DOA
“Ya Allah, rahmat-Mu-lah yang kuharapkan, maka janganlah Kau biarkan aku mengurusi diriku sendiri (tanpa pertolongan-Mu) sekejap mata sekalipun, dan perbaiki urusanku semuanya, tiada sesembahan yang hak melainkan Engkau.” (HR. Abu Dawud 4/324, Ahmad 5/42, dinilai hasan oleh Al Albani dan selainnya, dinukil dari Ad Du’a minal Kitab wa Sunnah, Dr. Sa’id bin Wahf Al Qahthani, hal. 35)
Inilah sedikit keterangan yang bisa kami nukilkan, insya Allah masih akan bersambung pada bagian-bagian selanjutnya, semoga Allah memudahkannya, dan tidak menjadikannya sebagai pengundang bencana bagi kami. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammadin wa ‘ala aalihi wa shahbihi wa sallam. Wa aakhiru da’wanaa al hamdulillaahi Rabbil ‘alamiin. (15 Dzulhijjah 1426)
-bersambung insya Allah-
***
Penulis: Abu Muslih Ari Wahyudi (Mahasiswa UGM, Staf Pengajar Ma’had Ilmi, Jogjakarta)
Murojaah: Ustadz Abu Saad, M.A.
Update Terakhir ( Rabu, 02 Januari 2008 )
Diarsipkan di bawah: Uluwwul Himmah | Tag: Semangat Tinggi, Uluwwul Himmah
Ibnul Jauzi berkata menceritakan para imam yang memiliki cita-cita dan semangat yang tinggi,”Semangat para ulama terdahulu sangatlah tinggi, hal itu diindikasikan oleh karya-karya tulis mereka yang merupakan intisari usia mereka. Namun kebanyakan hasil karangan mereka telah hilang, karena semangat para penuntut ilmu telah melemah. Mereka hanya mencari yang ringkas-ringkas dan tidak bersemangat mempelajari kitab-kitab besar”.
Kemudian, para penuntut ilmu hanya mempelajari dari sebagian kitab tersebut. Lalu, lenyaplah kitab-kitab dan tidak ditulis ulang. Maka, jalan menuntut ilmu yang baik adalah meneliti kitab-kitab yang telah diwariskan (para ulama). Hendaklah dia memperbanyak muthala’ah; karena dia melihat ilmu-ilmu para ulama terdahulu dan tingginya semangat mereka yang mengasah sanubarinya dan menggerakkan semangatnya untuk bersungguh-sungguh, dan tidak ada satu kitab yang tidak ada faedahnya.
Aku berlindung kepada Allah ‘Azza wa Jalla dari perangai mereka yang bergaul bersama kami. Kami tidak melihat mereka memiliki semangat yang tinggi, maka bisa diikuti para generasi muda, dan tidak memiliki sifat wara’ hingga orang yang zuhud bisa mengambil faedah darinya.[Shaid al Khatir hal 571].
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi rahmat kepada Ibnul Jauzi, dia mencela orang-orang yang ada di masanya. Bagaimana kalau dia melihat orang-orang yagn hidup di masa kita. Pintu-pintu ilmu telah dibukakan kepada mereka, namun mereka menjauhkan diri darinya? Pintu-pintu itu ada di hadapan dan di bawah jangkauan mereka. Tetapi para pemilik semangat sangat sedikit dan orang-orang yang memiliki cita-cita sanagt langka.
Wahai kekasih, ambilah secuil kesabaran mereka. Bagaimana mereka menuntut ilmu? Kesulitan apa saja yang mereka temukan dalam perjalanan mendapatkan ilmu? Agar engkau melihat perbedaan dan jarak antara orang-orang yang ada pada kita disertai perasaan sedih yang mendalam?
Abdullah bin al Qasim al ‘Akti al Mishri ingin melakukan perjalanan dari Kairo menuju Madinah untuk menuntut ilmu bersama Imam Malik, sedangkan istri Abdullah ketika itu sedang mengandung. Ia berkata kepada istrinya,”Aku sudah berniat melakukan perjalanan dalam menuntut ilmu. Saya merasa tidak akan kembali ke Mesir kecuali setelah melewati waktu yang panjang. Jika engkau ingin aku menceraikanmu aku akan menceraikanmu, maka engkau bisa menikah dengan orang yang engkau kehendaki. Jika engkau memilih tetap bersamaku, saya akan melakukannya namun saya tidak tahu kapan akan kembali”. Istrinya memilih tetap bersamanya sebagai istrinya, dan Ibnu al Qasim berangkat kepada Imam Malik. Dia tinggal (di Madinah) selama tujuh belas tahun, tidak pernah meninggalakan Imam Malik dan tidak melakukan kegiatan bisnis apapun. Namun semangatnya ditujukan untuk menuntut ilmu. Di masa inilah istrinya melahirkan seorang anak laki-laki dan sudah besar dan Ibnu al Qasim tidak pernah tahu tentang kelahiran anaknya karena kabar beritanya telah terputus sejak masa keberangkatannya. Ibnu al Qasim berkata,”Pada suatu hari, ketika aku berada di majelis Imam Malik, tiba-tiba datang kepada kami seorang haji dari Mesir, seorang pemuda bertutup muika. Ia memberi salam kepada Imam Malik kemudian berkata,”Adakah diantara kalian yang bernama Ibnu al Qasim?” mereka menunjuk ke arahku. Ia langsung menghadap kepadaku, memelukku dan mengecup diantara kedua mataku. Aku merasakan aroma seorang anak darinya. Ternyata dia adalah anakku yang kutinggalkan ketika istriku dalam kaeadaan mengandungnya, dan sekarang telah menjadi pemuda yang sudah besar.”
Bersungguh-sungguh dan mengalami kelelahan bukan hanya dalam menuntut ilmu dam mengikatnya (mencatatnya) saja, tetapi orang yagn diterangi oleh Allah ‘Azza wa Jalla baginya jalan ilmu, ia harus menyebarkannya, duduk bersama para penuntut ilmu dan orang-orang yang belajar serta kalangan masyarakat awam.
Sesungguhnya hal itu adalah zakatnya ilmu dan kewajiban menyebarkannya. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla memberikan rahmat kepada Waki’ bin al Jarrah. Semua harinya digunakan berbuat taat kepada Allah Subahanahu wa Ta’ala. Dia melakukan puasa dahr(setahun penuh). Di pagi hari, dia duduk (mengajar) untuk para ahli hadist hingga siang mulai menanjak naik, kemudian dia pulang. Dia tidur siang hingga waktu shalat Dhuhur. Kemudian keluar (rumah) melaksanakan shalat Dhuhur dan dia menuju jalan yang digunakan, yang dinaiki oleh penimba air, lalu mereka mengisi timba mereka. Maka, ia mengajarkan al Qur’an kepada mereka yang digunakan untuk menunaikan kewajiban hingga batas waktu ‘Asyar. Kemudian dia kembali ke masjidnya. Lalu shalat ‘Asyar. Kemudian dia duduk mempelajari al Qur’an dan berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla hingga akhir siang. Kemudian waktu dia masuk rumahnya, lalu dihidangkan kepadanya sajian berbukanya[Tarikh Baghdad 13/501].
Imam ath Thabari di musim panas, tidak ketinggalan hais(kurma yang dicampur samindan keju serta diadoni dengan kuat. Terkadang diberikan pula tepung) raihan (kemangi), dan lainaufar(satu jenis wangi-wangian yang tumbuh di air yang tenang). Apabila selesai makan dia tidur di khaisy(pakaian halus dalam tenunannya dan jahitannya kasar. Dibuat dari sisa-sisa benang(afal). Dipakai di musim panas ketika tidur) di baju yang pendek lengan bajunya, dicelup dengan kayu cendana dan air mawar.
Kemudian ia bangun dan shalat Dhuhur di rumahnya (masjidnya). Menulis karangannya sampai waktu ‘Asyar. Kemudian keluar untuk menunaikan shlat ‘Asyar. Duduk untuk manusia dibacakan kitab-kitab atasnya hingga waktu Maghrib. Kemudian beliau duduk untuk membacakan fiqih dan mengajar dihadapannya hingga waktu shalat ‘Isya’ yang terakhir. Dia membagi malam dan siangnya untuk kebaikan dirinya, agamanya, dan semua makhluk, seperti taufiq yang dinerikan Allah ‘Azza wa Jalla kepadanya.
Mereka (ualma masa lalu), memegang sabar dengan tali kekangnya, ketetapan hati dengan pengendaliannya. Mereka didorong oleh cita-cita yang tinggi, harapan yang luas, dan karunia dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Al Khatib al Baghdadi mendengar Shahih Bukhari dari Ismail bin Ahmad al Hairi di Makkah dalam tiga majelis: dua kali di malam hari. Dia mulai membaca di waktu maghrib dan mengkhatamkannya ketika shalat Fajar. Dan yang ketiga dari waktu Dhuha hingga terbitnya fajar(kembali_peng). Adz Dzahabi berkata,” Ini adalah hal yang tidak ada seorangpun di masa kami yang dapat melakukannya. Kemungkinan di antara penyebab kemudahan hal itu adalah berkah waktu yang di saat itu.”[Qawa’id at Tahdits karya al Qasimy hal. 262).
Bersambung…